Postingan populer dari blog ini
Kamu angsa, dia kodok
Pada suatu masa, di sebuah danau yang indah, hiduplah seekor angsa yang anggun bernama Alia. Bulu-bulunya putih bersih seperti salju, dan ia terkenal karena suaranya yang merdu. Di sisi lain danau, ada seekor kodok bernama Bono. Tubuhnya kecil, kulitnya hijau penuh bercak, dan suaranya serak. Setiap hari, Bono memandang Alia dengan kekaguman. “Betapa sempurnanya ia,” pikir Bono. Namun, ia sadar bahwa ia hanyalah seekor kodok biasa. Meski begitu, ia tetap memberanikan diri untuk menyapa Alia. “Alia, maukah kau berbicara denganku?” kata Bono suatu hari. Alia menoleh, lalu tersenyum sopan. “Tentu, Bono. Apa yang ingin kau bicarakan?” Bono merasa gugup, tetapi ia berkata, “Aku sering melihatmu di danau ini. Kau begitu anggun, sementara aku hanya kodok yang melompat-lompat di lumpur.” Alia tertawa kecil, bukan karena mengejek, tetapi karena ia mengerti maksud hati Bono. “Bono, apakah kau tahu bahwa setiap makhluk memiliki keindahannya sendiri?” “Tapi aku tidak seperti dirimu,” Bono menun...
Tinta
Dia datang laksana pena Meggoreskan diksi indah mengisi tiap lembar Memberi warna sekaligus menyirnakan kesedihan dan luka Kadang ceritanya juga jadi bagian pengisi di dalamnya , lukisan eloknya menempel hingga memikat setiap mata yang memandangnya Semua perilakunya menunjukan bahwa ia menjaga dan menghias buku ini dengan seluruh cinta di hatinya. Aku terpesona, menjatuhkan jangkar menghentikan pelayaran lalu menyandarkan hati padanya. Namun aku terlena, hingga lupa bahwa pena akan berhenti menulis, manakala tintanya telah habis. 4 April 2025 by : Aif
Komentar
Posting Komentar