🎭 Judul: "Warisan Bikin Waras-In"


Tema: Keluarga, warisan, konflik, dan pengungkapan rahasia lama — dibalut humor satir.


DAFTAR TOKOH:

  1. Mak Iyem – Nenek tua pemilik harta warisan, pura-pura pikun.

  2. Mas Sabar – Anak pertama, alim tapi pelit.

  3. Mbak Lela – Anak kedua, janda glamor penuh drama.

  4. Udin – Anak bungsu, pengangguran sok bijak.

  5. Citra – Cucu Mak Iyem, idealis dan blak-blakan.

  6. Bayu – Cucu, anak Mbak Lela, suka pamer konten medsos.

  7. Tante Munah – Adik Mak Iyem, mulutnya tajam.

  8. Bambang Notaris – Notaris kaku dan sering salah baca surat.

  9. Bu RT Sri – Tetangga ingin ikut campur dan julid.

  10. Pak Jabrik – Suami Bu RT, suka ngelantur.

  11. Siti Pembantu – Pembantu rumah yang tahu semua rahasia keluarga.

  12. Pak Ustaz Ramlan – Tetangga religius, suka masuk saat konflik dan beri nasihat absurd.

  13. Pak Polisi Karno – Polisi lokal yang dipanggil karena laporan rebutan warisan.

  14. Kurir Online – Datang bawa paket, malah ketiban konflik.

  15. Narator – Membuka dan menutup kisah dengan komentar nyinyir dan lucu.


🎬 ADEGAN 1 – "Pura-Pura Mati"

LATAR: Ruang tamu rumah Mak Iyem. Ada meja, kursi rotan, foto keluarga besar.

Narator:
Di kampung Kalideres Asri, warisan bisa jadi lebih panas dari sambal buatan Bu RT. Dan inilah kisah keluarga Mak Iyem... yang pura-pura mati demi melihat siapa anak yang paling layak mewarisi rumah... dan utangnya.

Mas Sabar (berdoa):
Ya Allah, terimalah ibuku dengan husnul khatimah... (lirih) dan semoga warisan rumahnya lancar proses AJB-nya...

Mbak Lela (nangis lebay):
Ibuuu! Ibu belum sempat nyicip salad keto ku! nangis sambil selfie

Udin (santai, sambil main HP):
Tenang aja, semua akan kembali ke-Nya. Dan warisan ke kita...

Tiba-tiba Mak Iyem batuk-batuk, bangun dari peti kosong. Semua kaget.

Mak Iyem:
Heh! Kalian kira aku udah mati? Baru pura-pura! Cuma mau lihat siapa yang beneran sayang...

Semua terdiam, lalu... ribut bareng.


🎬 ADEGAN 2 – "Surat Wasiat Bikin Ribet"

LATAR: Masih di ruang tamu. Bambang Notaris duduk tegang.

Bambang Notaris:
Menurut surat wasiat... rumah ini akan diwariskan kepada—eh, maaf, saya kebalik... ini catatan laundry saya...

Tante Munah:
Hadeh, ini notaris apa kasir minimarket?

Bu RT Sri:
Saya usul! Rumah ini dijadikan rumah singgah PKK saja. Biar berkah.

Pak Jabrik:
Atau taman bermain hamster. Kan lucu...

Siti Pembantu (nyengir):
Yang tinggal di sini tiap hari saya, tapi kok saya yang paling diem ya?


🎬 ADEGAN 3 – "Rahasia Tersingkap"

LATAR: Malam hari. Semua duduk dalam lingkaran, suasana mulai emosional.

Citra:
Kenapa semua rebutan rumah, tapi lupa… siapa yang merawat Nek Iyem saat sakit?

Bayu:
Aku upload 17 konten tribute buat Nek! Banyak likes loh!

Mak Iyem (lirih):
Rumah ini bukan soal tembok. Tapi kenangan... dan luka. Kalian lupa, rumah ini dibeli bukan dari harta... tapi dari pengorbanan bapak kalian.

Udin:
Lho? Bukannya menang arisan?

Mak Iyem:
Itu versi yang kubuat biar kalian bangga.

Pak Ustaz Ramlan (masuk tiba-tiba):
Ingat, harta dunia cuma titipan. Tapi harta piring keramik antik? Itu bisa dijual mahal.


🎬 ADEGAN 4 – "Polisi, Paket, dan Pintu Hati"

LATAR: Siang. Pak Polisi datang karena laporan warga.

Pak Polisi Karno:
Ada laporan keributan... dan rebutan harta. Di mana tersangkanya?

Kurir Online (masuk tiba-tiba):
Permisi! Paket atas nama ‘Yang Tersayang’? Isinya... surat warisan asli!

Mak Iyem:
Lho?! Itu surat lama yang aku simpan dan lupa bayar ongkirnya!

Bambang Notaris (buka surat):
Tertulis: “Rumah ini untuk yang setia, bukan yang banyak bicara.” Berarti... melirik Siti Pembantu

Semua: APA??!!


🎬 ADEGAN 5 – "Akhir Tak Terduga"

LATAR: Rumah tetap ramai, tapi damai.

Mak Iyem:
Aku serahkan rumah ini jadi rumah belajar anak-anak kampung. Kalian boleh tinggal, tapi jangan ribut.

Mas Sabar, Mbak Lela, Udin (serempak):
Jadi... warisan gagal?

Siti Pembantu (tersenyum):
Tapi warisan kasih sayang... tetap ada. Asal kalian nggak berubah jadi monster tiap dengar kata 'sertifikat'.

Narator:
Dan begitulah... sebuah keluarga yang hampir bubar karena warisan, justru waras kembali. Meski dompet tetap tipis, tapi hati jadi penuh... atau pura-pura penuh.

(Lampu padam. Musik kocak mengiringi. Tirai turun perlahan.)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamu angsa, dia kodok

Tinta