🎠Judul: "Warisan Bikin Waras-In"
Tema: Keluarga, warisan, konflik, dan pengungkapan rahasia lama — dibalut humor satir.
DAFTAR TOKOH:
-
Mak Iyem – Nenek tua pemilik harta warisan, pura-pura pikun.
-
Mas Sabar – Anak pertama, alim tapi pelit.
-
Mbak Lela – Anak kedua, janda glamor penuh drama.
-
Udin – Anak bungsu, pengangguran sok bijak.
-
Citra – Cucu Mak Iyem, idealis dan blak-blakan.
-
Bayu – Cucu, anak Mbak Lela, suka pamer konten medsos.
-
Tante Munah – Adik Mak Iyem, mulutnya tajam.
-
Bambang Notaris – Notaris kaku dan sering salah baca surat.
-
Bu RT Sri – Tetangga ingin ikut campur dan julid.
-
Pak Jabrik – Suami Bu RT, suka ngelantur.
-
Siti Pembantu – Pembantu rumah yang tahu semua rahasia keluarga.
-
Pak Ustaz Ramlan – Tetangga religius, suka masuk saat konflik dan beri nasihat absurd.
-
Pak Polisi Karno – Polisi lokal yang dipanggil karena laporan rebutan warisan.
-
Kurir Online – Datang bawa paket, malah ketiban konflik.
-
Narator – Membuka dan menutup kisah dengan komentar nyinyir dan lucu.
🎬 ADEGAN 1 – "Pura-Pura Mati"
LATAR: Ruang tamu rumah Mak Iyem. Ada meja, kursi rotan, foto keluarga besar.
Narator:
Di kampung Kalideres Asri, warisan bisa jadi lebih panas dari sambal buatan Bu RT. Dan inilah kisah keluarga Mak Iyem... yang pura-pura mati demi melihat siapa anak yang paling layak mewarisi rumah... dan utangnya.
Mas Sabar (berdoa):
Ya Allah, terimalah ibuku dengan husnul khatimah... (lirih) dan semoga warisan rumahnya lancar proses AJB-nya...
Mbak Lela (nangis lebay):
Ibuuu! Ibu belum sempat nyicip salad keto ku! nangis sambil selfie
Udin (santai, sambil main HP):
Tenang aja, semua akan kembali ke-Nya. Dan warisan ke kita...
Tiba-tiba Mak Iyem batuk-batuk, bangun dari peti kosong. Semua kaget.
Mak Iyem:
Heh! Kalian kira aku udah mati? Baru pura-pura! Cuma mau lihat siapa yang beneran sayang...
Semua terdiam, lalu... ribut bareng.
🎬 ADEGAN 2 – "Surat Wasiat Bikin Ribet"
LATAR: Masih di ruang tamu. Bambang Notaris duduk tegang.
Bambang Notaris:
Menurut surat wasiat... rumah ini akan diwariskan kepada—eh, maaf, saya kebalik... ini catatan laundry saya...
Tante Munah:
Hadeh, ini notaris apa kasir minimarket?
Bu RT Sri:
Saya usul! Rumah ini dijadikan rumah singgah PKK saja. Biar berkah.
Pak Jabrik:
Atau taman bermain hamster. Kan lucu...
Siti Pembantu (nyengir):
Yang tinggal di sini tiap hari saya, tapi kok saya yang paling diem ya?
🎬 ADEGAN 3 – "Rahasia Tersingkap"
LATAR: Malam hari. Semua duduk dalam lingkaran, suasana mulai emosional.
Citra:
Kenapa semua rebutan rumah, tapi lupa… siapa yang merawat Nek Iyem saat sakit?
Bayu:
Aku upload 17 konten tribute buat Nek! Banyak likes loh!
Mak Iyem (lirih):
Rumah ini bukan soal tembok. Tapi kenangan... dan luka. Kalian lupa, rumah ini dibeli bukan dari harta... tapi dari pengorbanan bapak kalian.
Udin:
Lho? Bukannya menang arisan?
Mak Iyem:
Itu versi yang kubuat biar kalian bangga.
Pak Ustaz Ramlan (masuk tiba-tiba):
Ingat, harta dunia cuma titipan. Tapi harta piring keramik antik? Itu bisa dijual mahal.
🎬 ADEGAN 4 – "Polisi, Paket, dan Pintu Hati"
LATAR: Siang. Pak Polisi datang karena laporan warga.
Pak Polisi Karno:
Ada laporan keributan... dan rebutan harta. Di mana tersangkanya?
Kurir Online (masuk tiba-tiba):
Permisi! Paket atas nama ‘Yang Tersayang’? Isinya... surat warisan asli!
Mak Iyem:
Lho?! Itu surat lama yang aku simpan dan lupa bayar ongkirnya!
Bambang Notaris (buka surat):
Tertulis: “Rumah ini untuk yang setia, bukan yang banyak bicara.” Berarti... melirik Siti Pembantu
Semua: APA??!!
🎬 ADEGAN 5 – "Akhir Tak Terduga"
LATAR: Rumah tetap ramai, tapi damai.
Mak Iyem:
Aku serahkan rumah ini jadi rumah belajar anak-anak kampung. Kalian boleh tinggal, tapi jangan ribut.
Mas Sabar, Mbak Lela, Udin (serempak):
Jadi... warisan gagal?
Siti Pembantu (tersenyum):
Tapi warisan kasih sayang... tetap ada. Asal kalian nggak berubah jadi monster tiap dengar kata 'sertifikat'.
Narator:
Dan begitulah... sebuah keluarga yang hampir bubar karena warisan, justru waras kembali. Meski dompet tetap tipis, tapi hati jadi penuh... atau pura-pura penuh.
(Lampu padam. Musik kocak mengiringi. Tirai turun perlahan.)
Komentar
Posting Komentar