🎠Naskah Drama Tragedi: "Bayang Luka di Senja Terakhir"
Tema: Pengkhianatan, cinta, dan pengorbanan dalam sebuah kerajaan yang runtuh karena ambisi dan dendam.
🎠DAFTAR TOKOH:
-
Raja Wiratama – Penguasa kerajaan yang adil tapi lelah menghadapi intrik.
-
Permaisuri Melati – Istri raja, penyimpan rahasia besar.
-
Pangeran Aksa – Putra mahkota, penuh idealisme.
-
Putri Amara – Putri kerajaan, mencintai rakyat biasa.
-
Laksamana Mahesa – Panglima perang yang setia namun menyimpan cinta terlarang.
-
Jenderal Surya – Ambisius, ingin merebut takhta.
-
Raka – Prajurit muda, sahabat Aksa, penuh pengorbanan.
-
Arya – Rakyat jelata, kekasih Putri Amara.
-
Nyi Rendra – Tabib istana, tahu ramalan kehancuran.
-
Pujangga Tama – Penulis istana, saksi bisu sejarah.
-
Dayang Laras – Pembantu Putri Amara, penyampai pesan rahasia.
-
Utusan Kerajaan Timur – Membawa ancaman perang.
-
Narator – Pencerita yang membuka dan menutup kisah.
🎬 ADEGAN 1: ISTANA DALAM BAYANGAN
LATAR: Aula istana, malam hari. Raja duduk di singgasana, tampak murung. Petir menyambar jauh.
Narator:
Dalam gemuruh langit yang menyimpan rahasia, berdiri sebuah kerajaan megah: Kerajaan Mandira. Namun di balik dinding emasnya, luka mulai tumbuh…
Raja Wiratama:
Bertahun-tahun aku memerintah dengan hati. Tapi kini, angin pengkhianatan mulai menusuk.
Permaisuri Melati (pelan):
Hati-hati pada orang terdekat, Paduka. Luka sering datang dari tangan yang dulu menggenggam kita.
Pangeran Aksa (bersemangat):
Ayah, izinkan aku ke medan perang! Aku tak takut mati demi kerajaan!
Raja:
Bukan nyawa musuh yang kutakutkan, tapi ambisi dari dalam...
🎬 ADEGAN 2: CINTA DALAM BAHAYA
LATAR: Taman istana. Amara dan Arya bertemu diam-diam.
Putri Amara:
Arya, jika kau tetap di sini, kau akan dibunuh. Kau bukan bangsawan...
Arya:
Cinta tak peduli darah biru atau lumpur sawah. Tapi jika harus mati demi menatap matamu... aku rela.
Dayang Laras (datang tergesa):
Tuan Arya! Jenderal Surya tahu kalian bertemu. Cepat pergi!
Putri Amara (menangis):
Dunia tak adil, Laras. Cinta dihukum, ambisi dipuja.
🎬 ADEGAN 3: PENGKHIANATAN
LATAR: Ruang rahasia. Jenderal Surya dan Laksamana Mahesa bicara pelan.
Jenderal Surya:
Besok malam, saat Pangeran Aksa ke perbatasan, kita serang istana. Raja terlalu tua. Aku lebih layak.
Laksamana Mahesa (ragu):
Aku bersumpah setia pada tahta… tapi Melati... dia milik Raja, tapi hatinya... milikku.
Jenderal Surya:
Kau bantu aku rebut istana, aku beri kau Melati. Semua bisa dibeli... bahkan cinta.
🎬 ADEGAN 4: DARAH DAN RAMALAN
LATAR: Di depan istana. Suara perang terdengar di kejauhan. Tabib Nyi Rendra duduk menatap langit.
Nyi Rendra:
Ramalan malam ini berkata: “Yang setia akan gugur, yang licik akan menang... namun hanya sebentar.”
Raka (berdarah-darah):
Aku lindungi Pangeran Aksa... tapi pasukan Jenderal tak terbendung…
Pangeran Aksa (dengan luka):
Biar darahku jadi harga atas kebebasan rakyatku...
Nyi Rendra (menangis):
Aksa... kau pahlawan... tapi dunia tak selalu memberi tempat untuk jiwa jujur.
🎬 ADEGAN 5: SENJA TERAKHIR
LATAR: Aula istana yang porak-poranda. Raja terbaring. Permaisuri Melati di sampingnya. Jenderal Surya duduk di takhta.
Raja Wiratama:
Surya… kau bukan pewaris. Kau penjagal.
Jenderal Surya:
Aku adalah masa depan. Raja lemah harus mundur.
Permaisuri Melati (menghunus belati):
Dan pengkhianat... harus musnah.
(Ia menusuk Jenderal Surya. Tapi Mahesa masuk dan menusuk Melati dari belakang.)
Laksamana Mahesa (hampir gila):
Melati! Maafkan aku... Tapi kau bukan milik siapa-siapa lagi...
🎬 ADEGAN 6: PUING DAN PUISI
LATAR: Reruntuhan istana. Pujangga Tama menulis di tengah kehancuran.
Pujangga Tama:
Kisah ini tak ditulis dengan tinta emas... tapi darah.
Pangeran gugur. Cinta terkubur. Takhta tak bersisa.
Namun sejarah tak pernah lupa...
Narator:
Begitulah Mandira jatuh. Bukan oleh musuh... tapi oleh hati yang retak.
Dan di bawah senja yang terakhir... hanya puing dan puisi yang tersisa.
(Lampu redup. Tirai turun perlahan.)
Komentar
Posting Komentar